Tampilkan postingan dengan label Perang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Perang. Tampilkan semua postingan

Selasa, 14 Februari 2012

:: Iblis dan tradisi pertempuran || waiman cakrabuana


“pertempuran antara haq dan bathil adalah sebuah kenyataan sejarah yang tak terbantahkan. bahkan menjadi tradisi yang tidak bisa dihapuskan dalam realitas kehidupan manusia dimasa yang akan datang”

iblis membangkang kepada kehendak Allah SWT sejak pertama Allah swt memproklamirkan kekhalifahan yang diamanahkan (dimandatkan) kepada Adam AS [2:30], Iblis serta merta , dengan kesombongannya [2:34], menyatakan pembangkangan. iblis tidak mau ‘sujud’ kepada Adam AS [7:11].

Pembangkangan kepada kekhalifahan ini pada hakikatnya adalah ‘pemberontakan’ kepada otoritas mutlaq Allah SWT, oleh karena itu Allah SWT langsung memvonis Iblis sebagai “kafir” [2:34], tidak cukup sampai situ; allah kemudian mengutuk dan melaknat iblis, dan mengusirnya dari jannah [15:34-35].

Murka Allah SWT terhadap iblis karena ketidak setujuan iblis terhadap kekhalifahan. keluar vonis dari Allah SWT kepada Iblis sebagai : “kafir pembangkang” dan “terkutuk” serta “terlaknat”. Inilah latar belakang permusuhan iblis terhadap “manusia”, tegasnya manusia yang menjalankan fungsi kekhalifahannya.

Iblis kemudian menabuh genderang perang terhadap kekhalifahan hingga hari akhir. hal ini dapat kita lihat dari permintaan iblis kepada Allah SWT agar diberi waktu hidup hingga hari akhir [15:36]. Allah SWT, kemudian mengabulkan permohonan iblis [15:37-38].

Untuk apa iblis rela hidup hingga hari akhir?... tentu untuk menghalangi dan merintangi manusia agar menyimpang [15:39-40] dari fungsinya yaitu menjalankan, menegakan dan membela kekhalifahan.

Iblis menebar ancaman bahwa dengan segala cara ia akan merintangi tegaknya khilafah; dari kiri, kanan, depan, belakang [7:17]. Bahkan Iblis akan merekrut manusia yang mau mengikuti ‘khithahnya’ (platformnya), dan akan menjadikannya sebagai pasukan perangnya, hingga pada waktunya akan dikerahkan secara sistemik dan totalitas untuk memerangi manusia penegak dan pembela khilafah [17:64-65]

Genderang perang terhadap kekhalifahan yang di ikrarkan iblis, untuk kemudian disambut dengan haru biru oleh para pengikutnya yaitu kaum kafirin [2:217]. Sehingga terjadilah pertempuran / peperangan abadi anatara kubu al-haq dan kubu al-bathil diseluruh penjuru dunia ini [4:76]. Hal ini yang oleh Allah SWT di gambarkan bahwa nanti para keturunan adam (manusia) satu sama lain akan saling bermusuhan [2:36].

Dalam realitasnya, perang ini melahirkan pertempuran hebat yang membuat kalah dan menang mejadi dinamika antara yang haq dan bathil [3:140]. tetapi kekalahan yang diderita kubu yang haq itu ada hikmahnya [3:140-141]:

1. sebagai ujian dan seleksi keimanan
2. peluang syahid
3. pembersih dosa
4. alasan allah untuk menghancurkan kaum kafirin

jadi sebenarnya “perang” ini ditabuh oleh iblis dan disambut pengikutnya yaitu “kaum kafirin”.
»»  SELENGKAPNYA...

Jumat, 10 Februari 2012

:: Dakwah dan Jihad Fisabilillah || waiman cakrabuana

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, Kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. mereka Itulah orang-orang yang benar.” (QS al-Hujurat: 15)

Secara syari’e dapat kita pahami bahwa Jihad itu berarti perang melawan musuh (kafir), dengan tujuan untuk menegakan Din (peraturan / kekuasaan) Islam dimuka bumi ini [48:28, 24:55]. Jihad dengan tujuan untuk menegakan Dinul islam berimplikasi kuat kepada penghancuran Institusi kekuasaan thaguth [20:24].

Apabila kita lihat didalam Al-qur’an, ayat-ayat Jihad ini turun didua kurun perjuangan Rasul, yaitu ayat Makkiyyah dan ayat Madaniyyah. Sebagian besar (hampir semua), ayat-ayat jihad ini turun pasca hijrah ke Yatsrib (Madinah), yang berarti ayat Madaniyyah. Dan makna jihad yang turun di madinah ini adalah “QITAL” (perang fisik).

Tetapi ada beberapa ayat Jihad yang turun di Makkah dan maknanya adalah Dakwah. Seperti yang tertera didalam QS 25:52: “Maka janganlah kamu mengikuti orang-orang kafir, dan berjihadlah terhadap mereka dengan Al-Quran dengan jihad yang besar”

JIHAD BIMAKNA DAKWAH

“…. Dan berjihadlah terhadap mereka dengan Al-Quran dengan jihad yang besar” (25:52). Jelaslah di ayat ini bahwa Allah memerintahkan kita untuk memerangi orang kafir dengan Al-Qur’an. Tentu saja maknanya, Al-Qur’an dijadikan sebagai Hujjah (argumentasi) untuk memerangi orang kafir.

Jadi, Jihad itu ada dua yaitu Jihad BIMAKNA QITAL (perang fisik) dan jihad BIMAKNA DAKWAH (perang idiologis). Yang pertama adalah bertempurnya dua pasukan tentara dengan senjata pedang atau panah, sementara jenis kedua adalah bertempurnya dua pasukan dengan senjata argumentasi dan sasarannya bukan fisik tetapi jiwa dengan keyakinannya.

Kedua makna jihad ini juga diisyaratkan oleh Rasul dengan sabdanya: innal mumina yujahidu bisaifihi wa lisanihi (sesungguhnya mukmin itu senantiasa berjihad dengan pedang dan lisannya) - HR Ahmad, Ath-Thabrani dan Ibnu Asakir).

Yang harus diperhatikan adalah bahwa: JIHAD itu adalah “PERANG” melawan kafir untuk menegakan Din Islam (peraturan dan kekuasaan Islam) sekaligus menruntuhkan Din Jahiliyyah (peraturan dan kekuasaan Jahiliyyah).

“Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) agama itu hanya untuk Allah saja. Jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), maka tidak ada permusuhan (lagi), kecuali terhadap orang-orang yang zhalim” [2: 193]

Ibnu Jarir ath-Thabari (wafat th. 310 H) rahimahullahu berkata: “Perangilah mereka sehingga tidak terjadi lagi kesyirikan kepada Allah, tidak ada penyembahan kepada berhala, kemusyrikan dan ilah-ilah lain, sehingga ibadah dan ketaatan hanya kepada Allah saja tidak kepada yang lain.” [Tafsiiruth Thabari (II/200)]

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Aku diperintahkan untuk memerangi manusia sampai mereka bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar melainkan Allah…” [Bukhari dan Muslim]

Syaikh as-Sa’di rahimahullahu berkata: “Maksud dan tujuan dari perang di jalan Allah bukanlah sekedar menumpahkan darah orang kafir dan mengambil harta mereka, akan tetapi tujuannya agar agama Islam ini tegak karena Allah di atas seluruh agama dan menghilangkan (mengenyahkan) semua bentuk kemusyrikan yang menghalangi tegaknya agama ini, dan itu yang dimaksud dengan ‘fitnah’ (syirik). Apabila fitnah (kemusyrikan) itu sudah hilang, tercapailah maksud tersebut, maka tidak ada lagi pembunuhan dan perang.” [Taisiirul Kariimir Rahmaan fii Tafsiiri Kalaamil Mannaan (hal. 89)]

Karena Jihad ini adalah “PERANG” melawan kafir untuk menegakan Islam, maka makna JIHAD BIMAKNA DAKWAH dapat diartikan sebagai PERANG DALAM TAHAP AWAL. Perang dalam tahap wal adalah “I'DAD” (persiapan Jihad bimakna Qital).

“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Alloh, musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya, sedang Alloh mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Alloh niscaya akan dibalas dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan)”. (QS. Al Anfaal : 60)

Bagaimana maksud Jihad bimakna Dakwah sebagai persiapan Jihad Bimakna Qital?

1. Dakwah dengan tujuan menegakan din Islam dan menghancurkan Din jahiliyyah [42:13-14, 48:28]

2. Dakwah dengan tujuan menyadarkan masyarakat agar mengimani ALLAH dan Mengkufuri THAGUTH [16:36, 21:25]

3. Dakwah dalam rangka menyeru masyarakat untuk menjadi penolong tegaknya Din Islam [61:6]

4. Dakwah dalam rangka menyusun shaf (barisan) yang kokoh kuat dalam menegakan Din Islam [60:4], Dakwah untuk membangun ‘masyarakat Islam” yang bersikap keras kepada kafir dan tolerans sesame mukmin [48:29]
»»  SELENGKAPNYA...

Rabu, 08 Februari 2012

:: Pesan Kemerdekaan Anbiya || waiman cakrabuana

Kalam Allah:  "Dan[ingatlah], ketika Musa berkata kepada kaumnya: "Hai kaumku, ingatlahni'mat Allah atasmu ketika Dia mengangkat nabi-nabi di antaramu, dandijadikan-Nya kamu orang-orang merdeka, dan diberikan-Nya kepadamu apa yangbelum pernah diberikan-Nya kepada seorangpun di antara umat-umat yanglain". (QS 5/20)
Musa AS sebagai Nabi Revolusioner memperingatkan Ummat Islam Bani Israil akan tiga hal. Dan tiga hal ini  merupakan keharusan sejarah, tepatnya sejarah untuk meraih kemerdekaan ummat islam dan meraih mardhatillah.
1.HADIRNYA PARA NABI
2.TERAIHNYA KEMERDEKAAN
3.SEMPURNANYA NIKMAT ALLAH

HADIRNYA PARA NABI

Nabi Musa AS mengingatkan Ummatnya akan pentingnya kehadiran para Nabi. Karena paraNabi adalah "pembawa berita besar" (naba'un adzhiem), yaitu berita besar revolusi Islam. Berita besar revolusi Islam itu adalah kabar paling menggegerkan para elit politik di suatu negri.
Seperti proklamasi risalah Nabi Muhammad SAW di bukit shofa (tahun ke-3 Nubuwwah) (QS 7/158), berita besar itu langsung mendapat reaksi  negative dari penguasa NEGARA HIJAZ dengan mengeluarkan pernyataan resmi "TABBA LAKA YA MUHAMMAD" (Celaka engkau wahai Muhammad!). 
Pernyatan itu dikeluarkan langsung oleh pemimpin tertinggi Negara Hijaz yaitu AbuLahab (QS Al-lahab). Sebuah pernyataan resmi Negara Hijaz yang menyatakan bahwa Muhammad dan pengikutnya adalah Musuh Negara, bahwa gerakan Muhammad adalah inkonstitusional, ilegal dan makar.

Seperti juga, reaksi Rezim Fir'aun terhadap Musa AS yang kemudian mengeluarkan pernyataan resmi kenegaraan, dekrit Presiden: "DARUUNI AQTUL MUSA" (Biarkan aku bunuh Musa) (QS 40/26). 
 
Dekrit Itu muncul,  karena ketakutan Fir'aun oleh gerakan perubahan Nabi Musa yang langsung melakukan perubahan pada Sistem Hidupnya (Din).  INI semua dimulai dari Proklamasi N Musa dihadapan kaumnya , yaitu proklamasi "DZAHIRNYA AL-MULKU" (berdirinya kerajaan), yakni kerajaan yang dipimpin Musa AS (QS 40/29)

Setelah"BERITA BESAR" itu dikumandangkan, maka para NAbi itu kemudian "MENGOBARKAN SEMANGATBERPERANG" kepada ummat (QS 8/65). Yaitu Perang untuk menegakan DIN  ALLAH (QS 2/193), perang melawan kekuatan Penjajah ummat manusia (QS 20/24). Jadilah para Nabi sebagai tokoh revolusioner yang akan membebaskan manusia dari segala rantai penjajahan yang membelenggu (QS 7/157).
Ummat Islam pasti akan mencapai kemerdekaannya jika mau memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (AlQur'an) (QS 7/157)

Tentu saja Nabi pada Zamannya kini adalah "WAROTSATUL  ANBIYA"  (pewaris jiwa Anbiya) yaitu ulama. Ulama adalah manusia yang TAKUT KEPADA ALLAH (QS Fathir: 29). Ulama yang hanya takut kepada Allah SWT dan tidak takut kepada manusia.
Ulama pewaris anbiya adalah pembawa berita besar revolusioner dan pengobar semangat ummat untuk bangkit dan berjuang. Seperti Thalut yang mewarisi semangat revolusioner Nabi Syamil, untuk melawan PENJAJAH ZALUTH (QS 2/243).
Adanya 'Nabi zamannya' sebagai penggelora semangat REVOLUSIONER dan adanya ummat yang setia mengikuti jalan terjal perjuangan menuju kemerdekaan adalah prasyarat mutlak teraihnya kemerdekaan (QS 7/157)

TERAIHNYA KEMERDEKAAN
Nabi Musa As mengingatkan Ummat Islam Bani Israel bahwa, KEMERDEKAAN itu bukan hanya terusirnya anasir anasir asing dari suatu negri, tetapi KEMERDEKAAN juga adalah Ummat ISLAM memiliki MULKU "Kerajaan / negri" yang berdaulat kedalam dan keluar.

Dalam QS 24/55 diistilahkan dengan "LAYASTAKHLIFANNAHUM fil ardhi" (pasti mereka berdaulat penuh DI SUATU NEGRI).

NABI MUSA bukan hanya hendak membebaskan Bani Israel dari penjajahan Fir'aun. Tetapi terbebasnya Bani Israel dari penjajahan Fir'aun akan dijadikan JEMBATAN EMAS menuju KEMERDEKAAN UMMAT ISLAM, yaitu ummat Islam merdeka berdaulat mengatur negrinya sendiri berdasar (I'tishom) kepada KITAB ALLAH  (QS 3/103).


SEMPURNANYA NIKMAT ALLAH
NABIMUSA AS juga mengingatkan bahwa kesempurnaan Nikmat Allah SWT hanya akan dapat dinikmati jika Ummat Islam Sudah berkuasa (MERDEKA).

Nikmatpasca kemerdekaan itu adalah:
  1. Din (hukum) Islam Tegak , 
  2. Ummat IslamBebas beribadah atau mengaktualisasikan keislamannya tanpa ada yang menghalangi 
  3. Dirubahnya rasa takut menjadi aman sentausa, atau lahirlah suatu kondisi "gemahripah repeh rapih, tata tengtrem kerta raharja", suatu kondisi masyarakat yangadil dan makmur dan diridhai Allah (QS 24/55)
»»  SELENGKAPNYA...

Minggu, 01 Januari 2012

:: JIHAD Bukan sekedar Sungguh-sungguh || waiman cakrabuana


Secara bahasa, “JIHAD” yang kata dasarnya terdiri dari tiga hurup: “Jim”, “Ha” dan “Dal”; memiliki dua arti utama yaitu upaya yang keras (sungguh-sungguh) dan kesulitan. Raghib Al-Isfahany berkata jika dibaca “Al-Jahdu” artinya adalah kesulitan, namun jika dibaca “Al-Juhdu” artinya adalah upaya yang keras (sungguh-sungguh) .

Kedua makna Jihad tersebut sebenarnya adalah makna yang keduanya saling berkaitan sebagaimana yang dikatakan oleh DR Salman Audah: “komposisi “Jim”, “Ha” dan “Dal”, merupakan bentuk dasar yang menunjukan kesulitan yang berasal dari pengupayaan optimal segala kekuatan dalam suatu urusan”

Tetapi biasanya lafadz Jihad dipakai dalam makna mufa’alah (saling beraksi), seperti kata Raghib Al-Isfahani:

Mujahadah” adalah: “Istifragul Wus’I Fi Mudafa’atil Aduwwi” (Mengerahkan segenap daya upaya dalam melawan musuh)

DR Salman Audah berkata:

“Jika kalimat Jihad hadir dalam makna Mufa’alah (saling memberi aksi), maka jihad berarti kerja keras melawan musuh dimana musuhpun memberi perlawanan dengan keras pula.”

Dapatlah kita simpulkan bahwa jihad secara bahasa adalah: upaya keras dalam melawan (memerangi) musuh sehingga menimbulkan kesulitan atau kepayahan.

Secara istilah syar’ie, dikatakan:

Badzlul wus’I Fi Qitaalil Kuffar wal bughath (Mengerahkan segala kekuatan dalam rangka memerangi orang kafir dan pemberontak) .

Al-ma’luf menyatakan bahwa Jihad adalah:

Al-Qital Muhaamatan ‘anid din (Perang dalam rangka memelihara Ad-din)

Sulaiman Rasyid, menulis;

Jihad adalah peperangan terhadap kafir yang dipandang musuh, untuk membela agama Allah (li’iilai Kalimatillah).


didalam Lisanul Arab :

dikatakan Al-Jahdu (Al-Jahd) artinya Al-Masyaqqot (jerih payah), dan Al-Juhdu (Al-Juhd) artinya At-Thooqot (kekuatan). Dan dalam Lisanul Arab juga terdapat perkataan Al-Jihaad maknanya : Istifrooghu maa fiil wus'i wattooqoti min qaulin aw fi'li (Mencurahkan segenap tenaga dan kekuatan baik berupa Ucapan maupun Perbuatan).

Ibnu Rusyd mengatakan dalam muqaddimahnya:

"Setiap orang yang meletihkan dirinya di dalam mentaati Allah, maka sungguh ia telah berjihad di jalanNya, kecuali bahawasanya perkataan 'Jihad fie Sabilillah' bila dinyatakan secara mutlak, maka dengan kemutlakannya itu tidak dapat diartikan selain dari: "Memerangi orang orang kafir dengan pedang, hingga mereka masuk kedalam agama Islam atau membayar Jizyah dari tangan mereka, sedang mereka dalam keadaan hina."

Keempat mujtahid madzhab sepakat menyatakan bahwa Jihad menurut Syara' adalah "Berperang dijalan Allah SWT"

Sering orang mengartikan "Jihad" hanya secara lughawi saja: misalnya bersungguh-sungguh dalam belajar adalah jihad, membersihkan halaman rumah dengan sungguh sungguh adalah jihad. Tentu saja itu adalah pengertian yang keliru dan tidak bedasar. Sebab tidak setiap pekerjan baik yang dilakukan dengn sungguh-sungguh itu berarti jihad.

Saya membuat perumpamaan berikut: Shalat menurut lughoh (bahasa) adalah do'a, apakah jika orang telah berdo'a berarti telah shalat?. Tetap saja pengertian sholat harus berdasar kepada pengertian syara', yaitu: Serangkaian perbuatan yang diawali oleh takbir dan diakhiri dengan salam".
____
JIHAD adalah Perang melawan Musuh

Kembali kepada pengertian Jihad.

Jihad artinya adalah perang melawan musuh untuk menegakan Islam (Daulah / Khilafah Islam) atau dengan kata lain untuk meninggikan kalimah Allah SWT. Musuh Jihad adalah Penguasa yang merintangi tegaknya syari'at Islam

Dapatlah kita simpulkan bahwa jihad / perjuangan secara istilah syar’ie dan makna lughoh (bahasa) adalah meliputi empat unsur:


1.      Badzlul Wus’I (mengerahkan segenap kekuatan)
2.      Al-Masyaqqah (kesiapan menerima kesulitan). Mudafa’atil Aduwwi (melawan musuh)
3.      Li’I’lai Kalimatillah (menegakan kalimah Allah) / Liidzhari Dinillah (menegakan Din Islam)
»»  SELENGKAPNYA...