Tampilkan postingan dengan label Konsepsi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Konsepsi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 14 Februari 2012

:: Al Haq Vs Al Bathil || Waiman cakrabuana

Al-Haq (kebenaran sejati) tentusaja bersumber dari Allah SWT Yang menciptakan segala sesuatu [16:36, 35:3]. Sementara Al-bathil (kebatilan) bersumber dari makhluq (yang diciptakan).


Karena Al-Haq (kebenaran) bersumber dari Allah Al-Khaliq, maka rujukannya (refferensinya) adalah wahyu Allah SWT, yaitu Al-QuR’AN . Firman Allah SWT: “Yang demikian itu adalah karena Allah telah menurunkan Al-Kitab dengan membawa kebenaran; dan sesungguhnya orang-orang yang berselisih tentang (kebenaran) Al-Kitab itu, benar-benar dalam penyimpangan yang jauh (dari kebenaran).” (QS. 2:176) . Suatu premise, teori, kesimpulan dan pemahaman yang dirujuk dari Al-qur’an (dan hadis shohieh), maka itu adalah pemahaman yang haq.


Sementara itu, kebatilan (al-bathil), sebagai lawan al-haq, menyandarkan rujukannya kepada Ra’yu (prasangka manusia). Dimana ra’yu ini memiliki beberapa sumber, diantaranya:

1. Hawa nafsu [23:71, 25:43, 38:26]. 


Mislanya: “PERANG” melawan kaum kafirin, menurut wahyu Allah adalah wajib , tetapi hawa nafsu manusia memandang itu sebagai perkara yang “tidak baik” bahkan “tidak benar”, dengan dalih apapun [2:217] . Pandangan tersebut adalah bathil, karena sumbernya hawa nafsu. Padahal yang Haq (benar) adalah “perang” melawan kaum kafir itu wajib, bahkan sangat dicintai Allah [61:4].


Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Ilahnya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya? (QS. 25:43)

2. Suara terbanyak / opini publik [ 6:116].


Misalnya : hukum wanita menjadi kepala Negara. Menurut wahyu adalah haram (tidak boleh) karena Allah berfirman:  “Kaum laki-laki itu ADALAH PEMIMPIN bagi kaum wanita…[4:34}”. Rasulullah SAW bersabda: Lan yuflihal qaumun wallau amrahum imroatan (“tidak akan pernah beruntung suatu kaum yang menyerahkan urusannya kepada perempuan”). 


Tetapi dalam sistem demokrasi, tidak peduli apakah Halal atau haram menurut Allah, yang penting suara terbanyak menginginkan wanita jadi kepala Negara, maka wanita jadi kepala Negara adalah sah. 


Tentu saja pandangan dari system demokrasi adalah Bathil, karena menentukan benar-salah serta baik-buruknya tidak berdasarkan Qur’an dan hadis yang shahih, tetapi berdasar kesepakatan atau keinginan mayoritas manusia. 


Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang dimuka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah) (QS. 6:116)

3. Dzhan (persangkaan) [10:36]


Misalnya pandangan kaum PLURALISME, yang memandang bahwa semua agama adalah sama, karena berdasarkan prasangkanya: semua agama juga menuju Tuhan dan mengajarkan kebaikan. Atau pandangan mereka bahwa laki-laki dan wanita itu sama-sama makhluq Tuhan, karena itu jika laki-laki boleh polygamy maka wanita boleh polyandry. Atau pandangan mereka bahwa baik laki maupun wanita bebas menikah (berhubungan badan) baik dengan lawan jenisnya maupun dengan sejenisnya.


Pandangan kaum PLURALISME ini adalah bathil, karena memreka menentukan benar-salah dan baik buruknya hanya berdasarkan prasangka pikiran mereka semata. Bukan bersumber dari wahyu Allah.


Dan kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali persangkaan saja. Sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikitpun berguna untuk mencapai kebenaran. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan. (QS. 10:36)

4. Adat istiadat / Tradisi nenek moyang [5:104]


Misalnya pandangan yang menganggap wajar atau bahkan benar perilaku perilaku berbau khurafat atau takhayul. Seperti memberi sesajian bagi Nyi Rorokidul. Jelas ini adalah pandangan / perilaku yang batil, karena sandarannya bukan wahyu tetapi tradisi.


Apabila dikatakan kepada mereka: Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikuti Rasul. Mereka menjawab: Cukuplah untuk kami apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya. Dan apakah mereka akan mengikuti juga nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak (pula) mendapat petunjuk? (QS. 5:104)
»»  SELENGKAPNYA...

Sabtu, 11 Februari 2012

:: Dua Kubu Pertentangan || waiman cakrabuana

Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan):  
"Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu", 
maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah 
dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya.
Maka berjalanlah kamu dimuka bumi 
dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul). 
(QS An-Nakhl 16/36)

<< 1 >>

Dan sungguhnya Kami 
telah mengutus rasul  pada tiap-tiap umat 
 
Dengan keadilan Allah SWT maka kepada setiap ummat , Allah telah mengutus seorang utusan (Rasul) "Walikulli Ummatin Rasuulan" (QS 10/47). Diutusnya Rasul kepada tiap tiap ummat s agar kelak diakhirat tidak ada seorangpun yang berkata (beralibi) bahwa belum datang kepada kami pembawa peringatan seorangpun (QS 6/130). Firman Allah: "(Mereka Kami utus) selaku rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar supaya tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya rasul-rasul itu. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. " (QS 4/165).

Rasul yang diutus oleh Allah kepada tiap tiap ummat adalah "minhum" /dari kalangan mereka sendiri  (QS 23/32). Dari kalangan mereka sendiri berarti dari jenis yang sama yaitu manusia biasa (QS 18/110) dan dari bangsanya sendiri, seperti kepada bangsa Tsamud diutus Shaleh yang merupakan saudara sebangsa' mereka sendiri (QS 11/61), kepada bangsa Aad diutus Nabi Hud, kepada Bangsa Madyan diutus Nabi Syuaeb, kepada bangsa Kan'an diutus Nabi Ibrahim, kepada Bangsa Quraisy diutus N. Muhammad dll.

Pengutusan Rasul berarti pembangkitan (QS 7/157-158), tepatnya Allah membangkitkan manusia dari suatu bangsa agar memimpin bangsanya menuju kepada kemerdekaan Islam di negrinya sendiri "Litundziro Ummul Qura Waman haulahu" (QS 42/7) untuk kemudian memerdekakan Islam dalam tingkat dunia "Hatta Laa Takuuna Fitnah Wa Yakuna Dinu Lillah" (QS 2/193).

<< 2 >>
 
"Sembahlah Allah (saja), 
dan jauhilah Thaghut itu"
 

Seluruh Rasul, diutus kemuka bumi membawa misi yang sama yaitu misi TAUHID (QS 21/25, 16/36). Dalam beberapa ayat Allah SWT merinci para Rasul dengan keterangan sebagai pembawa misi Tauhidy: Nabi Nuh (QS 7/59), Nabi  Hud (QS 11/50),  Nabi Shalih (QS 11/61),  Nabi Ibrahim (QS 2/133), Nabi Ismail (QS 2/133), Nabi Ishaq (QS 2/133) , Nabi Musa (QS 11/84) juga Nabi Isa (QS 5/72).

Semuanya membawa misi "Ani'budullah Wajtanibuth Thaguth" / "Sembahlah Allah dan Jauhi Thaguth"  (QS 16/36). Artinya seluruh Rasul menyeru (berdakwah) ditengah bangsanya agar mengimani Allah dan menjauhi thaguth (QS 2/256-257). 

Seperti Nabi Musa Alaihissalam yang oleh Allah SWT diperintah agar menghadapi Fir'aun (Raja Mesir), yang oleh Allah SWT dipersonifikasi sebagai Thaguth (QS 20/24) pada masa itu. Tentu pada masa Nabi Ibrahim Thaguthnya adalah Raja Namrudz, pada masa Ashabul kahfi Thaguth-nya adalah Raja Dikyanus, Pada Masa Thauth adalah Raja Jalut, Pada masa Nabi Muhammad Thaguthya adalah Pemerintahan Hijaz Pimpinan Abu Lahab, Pada masa kini????. 
 
Yang jelas Thaguth adalah kekuasaan atau pemerintahan yang menata sistemnya dengan tatanan hukum Jahiliyyah (QS 5/50), karena Thaguth adalah pembuat dan penetap aturan / hukum diluar hukum Allah SWT (QS 4/60).

Disini nampak pula bahwa Thaguth (Pemerintahan Jahiliyyah) adalah sistem kekuasaan tiranik yang dzalim dan menentang keras berlakunya syari'at Islam juga menghalang-halangi manusia untuk melakukan peribadatan yang murni kepada Allah SWT.  Oleh karena itu para Rasul adalah para pemimpin revolusioner yang juga ditugaskan oleh Allah untuk mendzahirkan Dinul Islam dan menghancurkan Din Bathil (QS 48/28).

Dimana menegakan Din Islam itu dalam wujud kongkritnya adalah menegakan KHILAFAH ISLAM (Pemerintahan Islam), karena dengan tegaknya khilafah, Allah menjamin 3 hal (QS 24/55):
1~ Din Islam Tegak (tegaknya kekuasaan Islam)
2~ Rasa Takut berubah menjadi aman (lahirnya wilayah teritorial yang aman untuk menegakan syari'at   Islam)
3~ Masyarakat bebas mengabdi kepada Allah Tanpa dipaksa musyrik


<< 3 >>
 
maka di antara umat itu 
ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah 
dan ada pula di antaranya 
orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya.
 
 
Nampak disini adanya polarisasi masyarakat kepada dua lutub yang saling bertentangan: 
{1} ada yang mengikuti Rasul (mendapat HIDAYAH), 
{2} ada juga yang mengikuti thaguth (berada dalam DOLALAH).

Kubu Rasul adalah kubu yang haq yang BERIMAN, BERHIJRAH dan BERJIHAD (8/74), berjuang menegakan dan mendzahirkan Din Islam (Kekuasaan Islam) (QS 42/13), hingga dimuka bumi ini hanya Din Islam yang dominan dan super power dunia (QS 2/193)

Sementara kubu Thaguth adalah menegakan dan mendzahirkan Din Fasad / Rusak (QS 5/64, 8/73, 30/41), serta membuat berbagai siasat untuk membunuh, memenjarakan dan mengasingkan Islam dan para pejuang penegak syari'at Islam (QS 8/30).

Rupanya dua kubu kekuatan ini adalah sunnatullah, sebuah kemestian yang selalu terjadi dimuka bumi ini. Ketika Nabi Adam Alaihissalam akan turun kemuka bumi Allah berfirman: "...Turunlah kamu! sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain, ...". (QS 2/36). Inilah ketetapan Ilahy yang sudah digariskan semenjak Awal yaitu akan terjadinya permusuhan dua kubu tersebut.

<<4>>

Maka berjalanlah kamu dimuka bumi 

dan perhatikanlah bagaimana kesudahan 

orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul). 
 

Berjalanlah kamu dimuka bumi!!!, agar kamu melihat dengan penglihatan ilmumu kebenaran sunnatullah pertentangan dua kubu ini, sebagai pertentangan abadi. Nabi Adam AS langsung berseteru dengan Iblis, Nabi Nuh dengan Kerajaan pada masa itu, Ibrahim dengan Namrudz dan lain-lain, hingga kini Al-Haq (Kebenaran) dan para pendukungnya selalu berseteru dengan Al-Bathil (Kebatilan) dan pendukungnya juga.]

Inilah sunnatullah, inilah hukum sejarah tidak ada dan tidak akan bisa seorang manusiapun menentang hukum sejarah. 

Senantiasa ada musuh yang abadi memusuhi ummat islam, maka ketahuilah musuhmu dan jadikan mereka sebagai musuh.

»»  SELENGKAPNYA...

Kamis, 09 Februari 2012

:: JAHILIYYAH || waiman cakrabuana

JAHILIYYAH bukan suatu masa kegelapan dimasa lalu. Tetapi suatu masa kegelapan dimana saja selama sistem sosial manusia tidak didasarkan kepada CAHAYA ALLAH“Jahiliyyah” , bukan hanya milik kaum pada masa Nabi Muhammad saja, tetapi Jahiliyyah ini adalah istilah bagi suatu kondisi yang jauh dari “cahaya” Allah, kapanpun dan dimanapun. Menurut Ibnu Taimiyah seperti yg dikutip oleh Muhammad Qutb jahl itu bermakna “Tidak memiliki atau tidak mengikuti ilmu.” Karena itu orang yg tidak memiliki pengetahuan tentang yg haq adl jahil apalagi kalau tidak mengikuti yg haq itu. Atau tahu yg haq tapi perilakunya bertentangan dgn yg haq meskipun dia sadar atau paham bahwa apa yg dilakukannya memang bertentangan dgn yg haq itu sendiri.

Ada 4 karakter kejahiliyyahan:

YANG PERTAMA:
DZHANNAL JAHILIYYAH (PRASANGKA JAHILIYYAH) 3:154

Kemudian setelah kamu berduka-cita Allah menurunkan kepada kamu keamanan (berupa) kantuk yang meliputi segolongan dari pada kamu, sedang segolongan lagi telah dicemaskan oleh diri mereka sendiri; mereka menyangka yang tidak benar terhdadap Allah seperti sangkaan jahiliyah. Mereka berkata:" Apakah ada bagi kita barang sesuatu (hak campur tangan) dalam urusan ini? "Katakanlah:" Sesungguhnya urusan itu seluruhnya di tangan Allah ". Mereka menyembunyikan dalam hati mereka apa yang tidak mereka terangkan kepadamu; mereka berkata:" Sekiranya ada bagi kita barang sesuatu (hak campur tangan) dalam urusan ini, niscaya kita tidak akan dibunuh (dikalahkan) di sini ". Katakanlah:" Sekiranya kamu berada di rumahmu, niscaya orang-orang yang telah ditakdirkan akan mati terbunuh itu keluar (juga) ke tempat mereka terbunuh ". Dan Allah (berbuat demikian) untuk menguji apa yang ada dalam dadamu dan untuk membersihkan apa yang ada dalam hatimu. Allah Maha Mengetahui isi hati.
QS. Ali Imran (3) : 154

(penjelasan QS 3:154)
Kekalahan dalam perang Uhud menjadi sarana dan kesempatan emas bagi Munafiqin (infiltran dan oportunis) dalam tubuh ummat Islam untuk menebar propaganda sesatnya. Mereka menuduh (dzhan) yang jelek kepada Allah (Dzhan Suu); bahwa perang yang dipimpin Allah dan RasulNya (hasilnya) kalah… jangan-jangan ekonomi juga, jika berdasar kepada Allah dan Rasulnya tidak akan mencapai kemakmuran… begitu pula dalam politik, social, budaya, pendidikan, kesenian, hankam dan lain-lain.

Mereka berprasangka bahwa Allah tidak sanggup mengurus kehidupan manusia (POLEKSOSBUDMILKAM). Oleh karena itu mereka berkata kepada Rasul: “adakah sebagian urusan yang bisa kami urus sendiri” (Hal Lanaa minal Amri Min Syai’in?). Disinilah propaganda sekuler digencarkan kaum oportunis.

Mereka ingin berbagi dengan Allah. Allah mengurus sebagian urusan hidupnya (ritual) sementara mereka (manusia) juga diberikan hak mengatur sebagian kehidupannya (poleksosbudmilkam).

Propaganda mereka dijawab paten oleh Allah: “Katakanlah (Muhammad) kepada mereka: Seluruh Urusan itu semuanya hak allah mengaturnya” (Qul Innal Amra Kullahu Lillah).

Keinginan untuk memisahkan sebagian kehidupan manusia dari pimpinan Allah dan Rasulnya (sekulerisme) inilah yang oleh Allah kemudian disebut dengan istilah: “Dzhannal Jahiliyyah” (prasangka Jahiliyyah).
-----
Negri manapun dan kapanpun yang menerapkan idiologi sekulerisme ini adalah negeri yang “jahiliyyah”

YANG KEDUA:
HUKUM JAHILIYYAH [5:50]
Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?
QS. al-Mai'dah (5) : 50

Sudah bisa dipastikan jika idiologi suatu negeri, adalah idiologi hasil perasan pikiran manusia seperti sekulerisme, maka akan menerapkan hukum (tata aturan) produk pikiran manusia dan menyingkirkan hukum yang bersumber dari wahyu [10:35-36].

Padahal Allah SWT menyatakan bahwa “barangsiapa yang menetapkan hokum tidak berdasar kepada hokum Allah, maka dia itu Kafir, dzalim dan fasiq” [5:44-45-47]. Kenapa?. Karena menetapkan hokum itu hanyalah hak Allah SWT [6:57, 12:40].

Itulah hokum Jahiliyyah.
----
Negri manapun dan kapanpun yang menerapkan hukum yang tidak bersumber dari wahyu, adalah negeri yang “jahiliyyah”

YANG KETIGA:
TABARUJ JAHILIYYAH [5:50]

dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu ...,
(QS. aL-aHZAB 33:33)

Tabaruj Jahiliyyah adalah kejahiliyyahan dalam aspek budaya (Budaya Jahiliyyah). Seperti para Istri Rasul (dalam QS 33;33) diatas dilarang mengikuti tradisi Jahiliyyah dalam bersolek. Diriwayatkan dari Abu Sa'id al-Khudri r.a., dari Nabi saw.bersabda, "Kalian akan mengikuti adat tradisi ummat sebelum kalian sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta. Hingga sekiranya mereka masuk dalam lubang biawak, [1] niscaya kalian akan mengikutinya juga." Para Sahabat bertanya, "Wahai Rasulullah! Apakah yang dimaksud itu orang-orang Yahudi dan Nasrani?" Rasulullah menjawab, "Kalau bukan mereka, siapa lagi?"(Bukhari [3456] dan Muslim [2669])

Tradisi Jahiliyyah adalah tradisi bangsa yang berporos pada "ABAANAA" , menerima apa yang sudah ditetapkan oleh "The Founding Father", walaupun apa yang sudah mereka tetapjkan itu tidak berdasar Ilmu dan petunjuk Allah SWT. Firman Allah : "Apabila dikatakan kepada mereka: Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikuti Rasul. Mereka menjawab: Cukuplah untuk kami apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya. Dan apakah mereka akan mengikuti juga nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak (pula) mendapat petunjuk?"(QS. 5:104)

itulah budaya jahiliyyah
--------------------------
suatu negri yang tetap mempertahankan ide dasar negrinya berdasar apa yang telah ditetapkan oleh para "the Founding Father", walaupun ide dasar tersebut tidak berdasar ilmu Allah adalah negri yang kjahiliyyah.

YANG KEEMPAT :
HAMIYYAH JAHILIYYAH [5:50]
semanagat nasionalismeKetika orang-orang kafir menanamkan dalam hati mereka kesombongan (yaitu) kesombongan jahiliyah lalu Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya, dan kepada orang-orang mumin dan Allah mewajibkan kepada mereka kalimat taqwa dan adalah mereka berhak dengan kalimat taqwa itu dan patut memilikinya. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS. 48:26)

Ayat ini turun berkenaan dengan perjanjian hudaibiyyah. Pada sa’at perjanjian Hudaibiyah, kaum Musyrikien tidak mau menerima tulisan Bismillah dan Muhammad Rasulullah dalam teks perjanjian itu. Mereka bersikeras bahwa bila mereka menerima tulisan itu tentu saja mereka tidak akan memerangi Rasul dan pengikutnya sebab tulisan tersebut merupa-kan pengakuan risalah Muhammad. Mereka bersikeras membela simbol simbol jahiliyyah demi keangkuhannya. Semangat Membela Lambang, simbol dan nilai nilai jahiliyyah inilah disebut HAMMIYYAH JAHILIYYAH atau Semanagt Nasionalisme.
»»  SELENGKAPNYA...