Tampilkan postingan dengan label Pelaku Dakwah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pelaku Dakwah. Tampilkan semua postingan

Rabu, 01 Februari 2012

:: Kerahkan Segenap Kekuatan || waiman cakrabuana

Diantara unsur (karakteristik) Jihad yang empat; satu diantaranya adalah MENGERAHKAN SEGENAP KEKUATAN. Bukan jihad namanya jika tidak ada upaya mengerahkan segenap kekuatan, baik sebagai MUJAHID DAKWAH (DA’I) maupun MUJAID QITAL (MUQATIL).: Firman Allah: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad dengan harta dan jiwanya pada jalan Allah dan orang-orang yang memberikan tempat kediaman dan pertoIongan (kepada orang-orang muhajirin), mereka itu satu sama lain lindung-melindungi. dan (terhadap) orang-orang yang beriman, tetapi belum berhijrah, Maka tidak ada kewajiban sedikitpun atasmu melindungi mereka, sebelum mereka berhijrah. (akan tetapi) jika mereka meminta pertolongan kepadamu dalam (urusan pembelaan) agama, Maka kamu wajib memberikan pertolongan kecuali terhadap kaum yang telah ada Perjanjian antara kamu dengan mereka. dan Allah Maha melihat apa yang kamu kerjakan” (QS Al-Anfal (8) ayat 73)

Memang, kerja keras; mengerahkan segenap kekuatan sudah menjadi karakter khas jihad, tak bisa dipisahkan.

Kekuatan apa saja yang wajib kita kerahkan?

Secara umum berdasar ayat-ayat Allah SWT ada dua hal: satu; Anfus (jiwa), dua; Amwal (harta).

Anfus artinya adalah jiwa raga termasuk didalamnya tenaga, pikiran, kemampuan lisan dan lain sebagainya. Amwal artinya harta benda atau kekayaan yang dimiliki jiwa termasuk waktu, kekayaan, tanah, dan lain sebagainya.

Mujahid –baik mujahid Qital maupun Mujahid Da’wah- , dipersyaratkan memiliki kekuatan baik amwal maupun anfus, sehingga cukup dan cakap dalam menjalankan tugas jihadinya.

Mengerahkan segenap kekuatan baik amwal maupun anfus dalam jihad fi sabilillah artinya adalah berkurban, mengorbankan jiwa raga dan harta bendanya di jalan Allah, karena mengharap ridha Allah SWT.

Mujahid adalah mukmin yang telah berjual beli dengan Allah SWT. Allah SWT sebagai pembeli sementara mukmin adalah penjual. Yang dijual oleh mukmin adalah amal dan anfusnya dan Allah SWT akan menukarnya dengan Jannah (surga).

Jual beli diawali oleh ikrar (ijab qabul), yang kemudian setelah diikrarkan maka barang mukmin yang berupa Amwal (harta benda) dan Anfus (jiwa raganya) menjadi milik Allah SWT. Sementara mukmin mujahid terhadap harta benda dan jiwa raganya hanyalah pihak yang mendapat amanah mengelola harta benda dan jiwa raganya untuk di korbankan fisabilillah. Pasti … jika harta benda dan jiwa raga mukmin mujahid dikorbankan untuk fi sabilillah, Allah SWT akan memasukannya kedalam surga. Firman Allah: “Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran. dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan Itulah kemenangan yang besar” (QS At-taubah (9) ayat 111)

Tidak ada alasan dan jalan bagi mukmin untuk tidak berjual beli dengan Allah … tidak ada celah untuk menghindari diri dari jihad … tak ada ruang untuk mengelak dari mengorbankan harta bendanya serta jiwa raganya dijalan Allah.
Kita pasti memahami bahwa pengorbanan mukmin mujahid dijalan Allah SWT pada hakikatnya adalah qurban dirinya kepada Allah SWT, sehingga sangat dimengerti, jika pengorbanan itu haruslah yang terbaik. Allah SWT hanya menerima pengurbanan yang dilakukan dengan ikhlas dan yang terbaik.

Seperti pengurbanan dua anak Adam AS yaitu Qabil dan Habil. Walaupun kedua anak Nabi Adam AS itu mempersembahkan pengurbanannya, tetapi yang diterima Allah SWT hanyalah pengurbanan Habil, karena Habil mengurbankan hasil ternaknya yang terbaik dan karena taqwanya. Sementara qurban Qabil tidak diterima, karena Qabil mengurbankan hasil taninya yang jelek-jelek. Firman Allah : “Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putera Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan korban, Maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). ia berkata (Qabil): "Aku pasti membunuhmu!". berkata Habil: "Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa". (QS Al-Maidah (5) ayat 27)

Apa artinya?

Ini berarti, baik harta benda dan jiwa raga yang hendak dikorbankan fisabilillah haruslah yang terbaik dan dilakukan dengan dorongan taqwa. Firman Allah : “Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai. dan apa saja yang kamu nafkahkan Maka Sesungguhnya Allah mengetahuinya” (QS Ali Imran (3) ayat 92)
»»  SELENGKAPNYA...

:: Karakteristik Pejuang || waiman cakrabuana


Perjuangan suci menegakan Islam bukanlah perkara mudah, mutlak harus ditebus dengan darah dan air mata, digadaikannya harta benda dan jiwa raga. Jalannya terjal penuh jebakan, mendaki penuh ujian dan percobaan. Hanya PEJUANG YANG MEMILIKI KARAKTERISTIK PENGIKUT RASULULLAH-LAH yang sanggup dan mau menanggung beban perjuangan ini. Firman Allah : 

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan dibiarkan, sedang Allah belum mengetahui (dalam kenyataan) orang-orang yang berjihad di antara kamu dan tidak mengambil menjadi teman yang setia selain Allah, RasulNya dan orang-orang yang beriman. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS At-Taubah (9) ayat 16)

Bagaimana karakter mereka itu:


Satu.
MUKMIN HAQQA:

Mukmin yang sebenar-benarnya, memiliki aqidah yang kuat terpatri dalam jiwanya hingga memiliki sikap Furqan. FirmanAllah SWT:

“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan Dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. kamu Lihat mereka ruku' dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, Yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya Maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah Dia dan tegak Lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar” (QS Al-Fath (48) ayat 29)

Mukmin Haqqa, adalah mukmin yang memiliki sikap tegas FURQAN, ia keras kepada kafir tetapi berkasih sayang dengan mukmin. Kekerasannya kepada kafir dibuktikan dengan BERLEPAS DIRI ATAU KELUAR DARI LINGKUP KEDAULATAN INSTITUSI JAHILIYYAH, MENGKUFURI, dan MEMUSUHINYA, seperti yang dicontohkan Nabi Ibrahim AS (QS Al-Mumtahanah 60:4).

Ia senantisa berada dalam front FISABILILLAH dalam memerangi SABILITTHAGUTH (QS An-nisa 4:76 ). Sebagaimana undang-undang Allah SWT menyatakan bahwa berjihad itu harus diawali dengan Hijrah (keluar dari kedaulatan institusi jahiliyyah). Dan Hijrah harus diawali dengan Iman (QS Al-Baqarah 2:218)


Dua.
RIBBIYYUN:


Mukmin yang memiliki kualitas mental yang prima (sabar). Sabar yang dimilikinya itu tercermin dalam langkahnya yang SENANTIASA BERJUANG TANPA HENTI, PANTANG MENYERAH DAN BERPUTUS ASA walaupun didera musibah yang bertubi-tubi. Firman Allah SWT:

“Dan berapa banyaknya Nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut (nya) yang bertakwa. mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar” (QS Ali Imran (3) ayat 146)

Sabar dalam menempuh jalan terjal perjuangan merupakan kaidah yang mutlak harus dimiliki. Kemenangan HANYALAH lamunan jika tidak disertai kesabaran. Firman Allah SWT: “Hai Nabi, Kobarkanlah semangat Para mukmin untuk berperang. jika ada dua puluh orang yang sabar diantaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ratus orang musuh. dan jika ada seratus orang yang sabar diantaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan seribu dari pada orang kafir, disebabkan orang-orang kafir itu kaum yang tidak mengerti” (QS Al-Anfal (8) ayat 65)

Firman Allah SWT:

“Sekarang Allah telah meringankan kepadamu dan Dia telah mengetahui bahwa padamu ada kelemahan. Maka jika ada diantaramu seratus orang yang sabar, niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ratus orang kafir; dan jika diantaramu ada seribu orang (yang sabar), niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ribu orang, dengan seizin Allah. dan Allah beserta orang-orang yang sabar” (QS Al-Anfal (8) ayat 66)

Batas sabar bagi pejuang Islam adalah kematian.

Bagaimana Sahabat Handzalah yang mengejar Abu Sufyan dalam perang Uhud, terus mengejar tanpa mempedulikan badannya yang sudah tertembak tombak musuh. Tidak menyerah, tidak berhenti, hingga satu kali lagi hantaman tombak musuh harus menghentikan gerakan Handzalah, ia gugur sebagai pahlawan (syuhada) Uhud. Rasulullah bersabda: “Aku melihat Handzalah dimandikan Malikat”.


Tiga.
HIZBULLAH:


mukmin yang memiliki totalitas kesetiaan (loyalitas) kepada Allah, Rasul dan jama’ah-nya. Firman Allah SWT:

“Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, Sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. meraka Itulah orang-orang yang telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya. dan dimasukan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka, dan merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. mereka Itulah golongan Allah. ketahuilah, bahwa Sesungguhnya hizbullah itu adalah golongan yang beruntung”. (QS Al-Mujadilah (58) ayat 22)

Pejuang Islam tidak mungkin menyerahkan wala’ (loyalitas kesetiaannya) kepada para penentang Risalah. Loyalitas / wala kaum mukminin hanya akan diserahkan kepada Allah, RASUL dan Pimpinan kaum beriman (QS Al-Maidah (5) ayat 50, 55).

Mujahid senantiasa taat pada perintah imam jihadnya dalam rangka berjihad, karena sikap itulah yang akan menghidupkan jiwanya (QS Al-Anfal 8:24)
»»  SELENGKAPNYA...